Saturday, January 29, 2005

Langitan, Maskumambang: An Intellectual Network with Several Questions

Manuskrip Karya KH Faqih Abdul Jabbar Maskumambang
Kodeks Lang 05

Posted by Hello
Manuskrip ini berjudul al-Manzuma al-Daliya Fi Awa'il al-Asyhur al-Qamariya yang berisi pemikiran KH. Faqih Abdul Jabbar Maskumambang, di bidang astronomi atau yang lebih dikenal dengan Ilmu Falak di kalangan pondok pesantren. Karya ini berkaitan dengan bagaimana mengetahui permulaan tanggal di setiap bulan Qamariyya. Karya ini ditemukan di Pondok Pesantren Langitan Tuban, meskipun sudah dicetak di percetakan Nahdhatul Ulama Surabaya (edisi cetak tersimpan di Pondok Pesantren Ihya' Ulum Dukun Gresik, koleksi Bapak KH. Afif Ma'sum.

Kodeks
Manuskrip al-Manzuma saya kodeks dengan Lang 05. Artinya kodeks MIPES akan dilakukan berdasarkan tempat dimana MIPES disimpan pada saat penelusuran kebaradaan MIPES berlangsung (Pondok Pesantren Langitan masih menyimpan sekitar 150 buah MIPES, can you imagine it's huge collection?). Lang 05 berarti bahwa Maanuskrip Al-Manzuma merupakan MIPES yang sekarang ini tersimpan di Pondok Pesantren Langitan Widang Tuban. Kodeks MIPES yang kita lakukan bisa terkesan arbiter, but we are not the only one. Kodeks Manuskrip Oriental yang ada di beberapa tempat di luar Indonesia juga berdasarkan tempat dimana Oriental Manuscript tersebut di simpan. Manuskrip Oriental yang disimpan di Universitas Leiden di beri kodeks LOr, sedangkan Manuskrip Oriental yang disimpan di British Library diberi kodeks BOr. Artinya preseden dalam dunia filologi dalam hal kodeks bukannya tidak pernah ada.

Langitan, Maskumambang: An Intellectual Network with Several Questions
Ketika menemukan Manuskrip al-Manzuma di Pondok Pesantren Langitan Widang Tuban dan edisi cetaknya di Pondok Pesantren Ihya' Ulum Dukun Gresik, timbul beberapa pertanyaan yang menggelitik. Sebab Maskumambang di satu sisi, dan Langitan serta Ihya Ulum di sisi lain saat ini memiliki afiliasi pemikiran keagamaan yang berlainan dan cenderung kontradiktif secara radikal. Maskumambang berafiliasi ke faham Wahhabi, sedang dua pesantren lainnya berafiliasi ke faham Aswaja. Pertama, apakah terjadi pergeseran pemikiran di lingkungan ketiga pondok pesantren tersebut? apakah faham Aswaja berkembang di Maskumambang kemudian bergeser ke faham Wahabi, ataukah justru sebaliknya kedua pondok pesantren lainnya pada awalnya berafiliasi ke faham Wahhabi kemudian bergeser ke faham Aswaja? Kedua, apakah terjadi pergeseran orientasi faham Aswaja? pada awalnya bermakna mereka yang berpegang teguh kepada ajaran Al-Qur'an dan Al-Sunna kemudian bergeser menjadi faham yang secara sociologis menjadi social marking bagi hanya kalangan Nahdhatul Ulama. Ketiga, bagaimana pola diseminasi MIPES di lingkungan pondok pesantren di Indonesia? apakah terdapat hubungan antara diseminasi MIPES dengan intellectual network dan apakah juga diseminasi MIPES berimplikasi pada sikap antara kelompok Modernis dan Tradisional Islam di Indonesia? Pertanyaan-pertanyaan tersebut tentu saja perlu memperoleh jawaban dari para peneliti Sejarah Sosial dan intelektual Islam Indonesia, sekaligus mengharuskan mereka untuk menjadikan MIPES sebagai sumber penulisan sejarah mereka. Gotcha my point?

3 Comments:

Anonymous ryo_dukunsuper@yahoo.com said...

Sekedar informasi saja mas saya tidak tahu kapan secara pasti waktu dan tahunnya, Maskumambang pada mulanya juga berpaham aswaja dan pendiri PP ihya'ul Ulum yaitu KH Ma'sum ayahanda dari KH. Afif Ma'sum adalah santri KH. Faqih Abdul Jabbar dari Maskumambang. Maskumambang bergeser ke paham Wahhabi sejak era kepemimpinan KH Ammar Faqih yang sempat mempelajari aliran Wahhabi yang pada saat itu merupakan aliran baru di Arab Saudi ketika beliau menuanikan ibadah haji.

4:04 AM  
Anonymous Anonymous said...

Pada mulanya, Maskumambang di tangan Kiyai Faqih memang berpaham 'aswaja' ala NU. Lalu semenjak masa Kiyai Ammar, paham ini mendapatkan perbaikan menjadi lebih Ahlus Sunnah wal Jama'ah daripada paham aswaja sebelumnya yang sudah tereduksi. Hanya saja, dalam bidang Ilmu Kalam masih tetap mengikuti pola Asy'ariyyah. Lalu semenjak masa Kiyai Nadjih sampai sekarang, Maskumambang berupaya melakukan penyempurnaan paham menjadi Aswaja (Ahlus Sunnah wal Jama'ah) yang murni sebagaimana masa Kanjeng Nabi dan para Sahabat.

Demikian kurang lebih gambaran obyektifnya. Salam & Terima kasih.

4:38 PM  
Anonymous Makalah Pendidikan said...

terus terang sy merindukan ulama yg rajin nulis lagi.. lebih2 di lingkungan NU, sptnya para kyai trlalu sibuk dg pesantrennya sehingga tidak sempat menulis.

11:05 PM  

Post a Comment

<< Home

Free Vote Caster from Bravenet.com